Kendari – Universitas Muhammadiyah Kendari (Unmuh Kendari), khususnya Fakultas Perikanan, sedang mengalami transformasi besar-besaran dalam infrastruktur akademiknya. Melalui proyek pembangunan fasilitas yang ambisius, institusi pendidikan ini berkomitmen meningkatkan kualitas pembelajaran dan riset di bidang perikanan. Proyek yang dimulai sejak Januari 2026 ini diproyeksikan selesai pada akhir tahun 2027 dengan total investasi mencapai Rp 47 miliar.
Pembangunan infrastruktur di Facultas Perikanan Unmuh Kendari mencakup beberapa komponen utama, antara lain: Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan Modern (LTHHP) seluas 1.200 meter persegi, Gedung Pusat Pembelajaran Bertingkat Lima (GPPBF) dengan kapasitas 500 mahasiswa, serta renovasi total Aquaculture Research Center (ARC) yang akan dilengkapi dengan 50 unit kolam budidaya ikan dalam berbagai sistem. Selain itu, pembangunan juga mencakup perpustakaan digital khusus perikanan, fasilitas komputasi simulasi laut, dan plaza terpadu dengan fasilitas olahraga air.
Lokasi kampus Unmuh Kendari yang strategis di Jalan Candradimuka, Kelurahan Baruga, Kendari, menjadi salah satu alasan mengapa universitas ini memilih untuk fokus mengembangkan Fakultas Perikanan. Letak geografis Kendari sebagai kota pesisir Sulawesi Tenggara membuat institusi ini memandang pengembangan sumber daya manusia di bidang perikanan sebagai kebutuhan strategis bagi pembangunan daerah.
“Kami memahami bahwa sektor perikanan adalah tulang punggung ekonomi Sulawesi Tenggara. Investasi besar-besaran dalam infrastruktur akademik ini adalah wujud komitmen nyata Universitas Muhammadiyah Kendari untuk mencetak lulusan-lulusan berkualitas yang siap berkontribusi pada kemajuan industri perikanan nasional,” ungkap Dr. Ir. Bambang Setiawan, Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam konferensi pers yang diadakan pada Senin (7 April 2026) di Aula Terpadu Kampus.
Lebih lanjut, Rektor Setiawan menambahkan bahwa pembangunan ini merupakan hasil dari analisis mendalam terhadap kebutuhan industri perikanan modern. “Tahun lalu kami melakukan survei ke 127 perusahaan perikanan di Sulawesi Tenggara dan sekitarnya. Hasilnya menunjukkan bahwa industri membutuhkan tenaga ahli yang menguasai teknologi hatchery modern, pengolahan produk dengan standar ekspor, dan manajemen sumber daya ikan berkelanjutan. Fasilitas-fasilitas yang sedang kami bangun dirancang untuk menciptakan kompetensi-kompetensi tersebut,” jelas Rektor Setiawan dengan detail.
Dekan Fakultas Perikanan, Dr. Pratiwi Kusuma Dewi, S.Pi., M.Sc., turut memaparkan visi akademik di balik proyek infrastruktur ini. Menurutnya, Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan Modern akan menjadi pusat inovasi pengolahan produk kelautan yang belum ada di kawasan Sulawesi Tenggara sebelumnya.
“Laboratorium kami akan dilengkapi dengan mesin pasteurisasi bertekanan tinggi, cold storage berstandar internasional, dan fasilitas pengemasan vakum yang komprehensif. Mahasiswa kami tidak hanya akan belajar teori, tetapi langsung memproduksi produk perikanan dengan standar eksport-grade. Kami juga sudah menjalin kerjasama dengan tiga perusahaan perikanan internasional untuk menjadikan lab ini sebagai pusat sertifikasi dan pelatihan industri,” terang Dekan Kusuma Dewi dengan antusias.
Gedung Pusat Pembelajaran Bertingkat Lima yang sedang dalam tahap konstruksi pondasi menampilkan desain arsitektur modern yang ramah lingkungan. Bangunan seluas 8.500 meter persegi ini akan memiliki ruang kelas berteknologi tinggi dengan sistem ventilasi alami, perpustakaan digital, ruang seminar interaktif, dan pusat pembelajaran outdoor untuk praktik lapangan.
“Desain gedung ini menerapkan prinsip green building. Atap akan dipasang panel surya dengan kapasitas 85 kilowatt peak untuk memenuhi 40 persen kebutuhan energi listrik bangunan. Selain itu, sistem pengelolaan air hujan terintegrasi akan mengurangi ketergantungan pada sistem PDAM hingga 60 persen,” jelaskan Ing. Dadang Purnama, Kepala Proyek Konstruksi dari PT Karya Utama Indonesia, perusahaan kontraktor utama yang menangani proyek ini.
Aquaculture Research Center (ARC), yang akan direnovasi secara menyeluruh, menjadi salah satu komponen paling menarik dari pembangunan ini. Pusat penelitian budidaya ikan ini akan menjadi yang terlengkap di Asia Tenggara dengan menggabungkan sistem akuakultur konvensional, sistem resirkulasi (RAS), dan aquaponics dalam satu lokasi.
“Dengan ARC yang telah diupgrade, mahasiswa kami bisa meneliti tidak hanya tentang budidaya ikan air tawar seperti lele dan tilapia, tetapi juga budidaya ikan laut seperti kerapu, baronang, dan ikan tuna. Fasilitas ini juga akan menjadi pusat pelatihan bagi petani ikan lokal yang ingin meningkatkan produktivitas mereka,” kata Dr. Budi Hartanto, Ketua Program Studi Budidaya Perikanan, yang juga menunjukkan rencana teknis pembangunan ARC kepada wartawan.
Investasi Rp 47 miliar untuk proyek infrastruktur ini bersumber dari beberapa saluran. Pimpinan Universitas Muhammadiyah Kendari mengungkapkan bahwa sebagian besar dananya berasal dari anggaran operasional universitas selama tiga tahun terakhir yang disisihkan untuk pengembangan jangka panjang. Selain itu, universitas juga mendapatkan dukungan dari Badan Wakaf Indonesia dan sumbangan dari alumni sukses di sektor perikanan.
“Kami juga sedang mengajukan proposal kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk mendapatkan matching fund melalui program Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PDUPT). Target kami adalah mendapatkan Rp 15 miliar tambahan untuk mempercepat pengadaan peralatan laboratorium premium,” ungkap Drs. H. Muh. Arsyad Suryanto, M.Sc., Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Investasi.
Pembangunan infrastruktur ini diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas lulusan Fakultas Perikanan. Hingga tahun akademik 2025-2026 ini, Fakultas Perikanan Unmuh Kendari memiliki 847 mahasiswa aktif yang tersebar di empat program studi: Budidaya Perikanan, Teknologi Hasil Perikanan, Manajemen Sumber Daya Ikan, dan Perikanan Tangkap.
Data dari Direktorat Mahasiswa menunjukkan bahwa tingkat penempatan kerja lulusan Fakultas Perikanan mencapai 81 persen dalam waktu enam bulan setelah lulus. Dengan infrastruktur yang lebih baik, pimpinan universitas menargetkan angka ini meningkat menjadi 95 persen pada tiga tahun mendatang.
“Perusahaan-perusahaan di industri perikanan selalu mencari talenta muda yang tidak hanya memahami teori tetapi juga terampil mengoperasikan teknologi terkini. Dengan fasilitas-fasilitas baru yang akan segera tersedia, lulusan kami akan memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi di pasar kerja nasional bahkan internasional,” tegas Dekan Kusuma Dewi.
Selain dampak akademik, pembangunan infrastruktur ini juga memberikan kontribusi ekonomi lokal. Proyek konstruksi melibatkan lebih dari 300 tenaga kerja lokal dan kontraktor-kontraktor kecil di Kendari. Pengadaan material bangunan juga melibatkan supplier lokal, yang diperkirakan membangkitkan sekitar Rp 8 miliar aktivitas ekonomi per bulan selama masa konstruksi.
Rektor Setiawan juga menyebutkan bahwa universitas berkomitmen untuk memastikan keberlanjutan fasilitas-fasilitas baru ini melalui pengelolaan yang profesional. “Kami telah merekrut spesialis manajemen fasilitas dengan pengalaman internasional. Setiap laboratorium akan dikelola oleh tenaga ahli yang tersertifikasi. Kami juga akan membentuk unit pengelolaan khusus yang bertanggung jawab pada peliharaan dan operasional berkelanjutan,” tambah Rektor Setiawan.
Kemitraan dengan industri juga menjadi strategi penting untuk memastikan relevansi fasilitas baru dengan kebutuhan pasar. Universitas telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan 12 perusahaan perikanan terkemuka di Indonesia untuk melakukan praktik mahasiswa, magang, dan penelitian bersama.
Salah satu mitra industri, PT Mina Laut Sulawesi, melalui perwakilan Senior Manager, Drs. Eddy Wijaya, menyatakan antusiasme atas pembangunan fasilitas ini. “Kami sangat mengapresiasi inisiatif Universitas Muhammadiyah Kendari dalam meningkatkan kualitas pendidikan perikanan. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang budidaya perikanan komersial, kami butuh SDM yang ter-update dengan teknologi terbaru. Fasilitas yang sedang dibangun akan membantu kami mendapatkan talenta-talenta terbaik,” ujar Wijaya.
Menjelang akhir 2026, direncanakan akan diadakan peletakan batu pertama secara resmi dengan kehadiran pejabat daerah tingkat provinsi. Fasilitas-fasilitas akan mulai beroperasi secara bertahap mulai semester genap tahun akademik 2026-2027.
Secara keseluruhan, pembangunan infrastruktur di Fakultas Perikanan Universitas Muhammadiyah Kendari merepresentasikan upaya nyata untuk memperkuat pendidikan tinggi vokasional dan praksisnya. Dengan investasi besar-besaran ini, universitas tidak hanya bertujuan meningkatkan standar akademik internal tetapi juga berkontribusi pada pembangunan industri perikanan di tingkat nasional.
Sebagai institusi pendidikan yang berakar dari nilai-nilai Muhammadiyah, Unmuh Kendari memandang pengembangan ini sebagai bentuk amal jariyah—investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa yang lebih sejahtera melalui pendidikan berkualitas.
Proyek pembangunan ini akan terus dipantau dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa setiap fasilitas yang dibangun dapat memberikan manfaat optimal bagi sivitas akademika dan industri perikanan di kawasan Sulawesi Tenggara dan sekitarnya.